ST Francis Luck Now – REFO Luncurkan GSIS 2025 untuk mengajak para pendidik di Indonesia mengeksplorasi dan memahami potensi besar Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan. Melalui ajang bertajuk G-Schools Indonesia Summit (GSIS) 2025 ini, REFO berfokus pada pengenalan dan implementasi AI dalam pembelajaran, dengan harapan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di era digital ini. Para pendidik diundang untuk menggali lebih dalam tentang penerapan AI yang tidak hanya meningkatkan efektivitas pengajaran, tetapi juga membantu siswa mengembangkan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi yang pesat.
Dalam dunia pendidikan yang semakin maju, teknologi memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Melalui GSIS 2025, REFO berusaha mendorong pendidik Indonesia untuk memahami dan mengadopsi teknologi AI. Acara ini tidak hanya sekadar teori, tetapi juga fokus pada penerapan praktis AI dalam dunia pendidikan.
Founder and Managing Director REFO, Pepita Gunawan, menjelaskan bahwa AI sudah mengubah banyak aspek dalam dunia pendidikan. “AI telah menetapkan batasan-batasan baru dalam dunia pendidikan. Menciptakan peluang sekaligus tantangan, yang mungkin tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Jadi kita harus terus update dan upgrade diri kita dalam literasi AI,” ujar Pepita di Jakarta, Jumat (14/3).
Dengan perkembangan pesat teknologi AI, pendidik diharapkan dapat beradaptasi dan mengoptimalkan penggunaan teknologi ini dalam proses belajar mengajar. Hal ini penting agar para siswa dapat memperoleh manfaat maksimal dari teknologi yang ada.
“Baca juga: Teknik Belajar yang Efektif untuk Meningkatkan Daya Ingat dan Pemahaman”
Acara GSIS 2025 diadakan di Sekolah IPEKA BSD, Kabupaten Tangerang, Banten. Sekolah ini dikenal sebagai sekolah rujukan pertama Google di Asia Tenggara. Lokasi tersebut menjadi pilihan yang tepat untuk memberikan contoh nyata bagaimana teknologi dapat diterapkan dalam pendidikan.
Selama acara, para pendidik diberi kesempatan untuk menggali lebih dalam tentang penggunaan AI dalam pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics). Pembelajaran STEM diharapkan dapat membekali siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan di masa depan, termasuk kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, berinovasi, serta memecahkan masalah secara kreatif.
Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, pemerintah Indonesia juga menekankan pentingnya pembelajaran STEM. Hal ini sejalan dengan visi GSIS 2025 untuk memberikan pengetahuan kepada siswa yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, siber, dan AI.
Dalam acara ini, para pendidik juga diajak untuk menggunakan pendekatan holistik dan interdisipliner dalam pengajaran. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengembangkan keterampilan praktis yang sangat diperlukan dalam dunia kerja masa depan.
“Acara ini menjadi peluang yang sangat luar biasa. Tidak hanya bagi saya, tetapi juga untuk seluruh pemimpin dan pendidik yang hadir. GSIS 2025 memberikan praktik langsung yang berguna bagi peserta,” ujar Gary Lim, Head of Education & Channels, Global Workspace for Education di Google for Education.
GSIS 2025 menjadi ajang yang menarik bagi para pendidik untuk berbagi pengalaman dalam mengimplementasikan AI. Para peserta dapat mengikuti berbagai diskusi paralel dan mendengarkan pidato dari para ahli yang berfokus pada penerapan teknologi AI dalam pendidikan.
Melalui kegiatan ini, REFO berharap para pendidik di Indonesia dapat terus meningkatkan literasi digital dan memanfaatkan AI untuk pembelajaran yang lebih efektif. Dengan adanya teknologi ini, para pendidik bisa memberikan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan menarik bagi para siswa.
REFO berharap GSIS 2025 menjadi acara rutin setiap tahun. Dengan itu, pendidik Indonesia bisa terus mendapatkan pelatihan terbaru. Penggunaan AI diharapkan mengubah cara mengajar dan menciptakan generasi muda yang siap digital. Setelah sukses pada 2025, REFO ingin acara ini berkembang lebih luas. Tujuannya agar lebih banyak pendidik di Indonesia terjangkau. Dengan begitu, pendidikan di Indonesia bisa bersaing dengan teknologi global.