ST Francis Luck Now – Gentle parenting adalah pendekatan pengasuhan yang mengutamakan empati, pengertian, dan komunikasi yang baik. Pendekatan ini bertujuan untuk membangun hubungan yang lebih baik antara orang tua dan anak, serta mendidik anak dengan cara yang penuh kasih sayang. Dalam menerapkan gentle parenting, orang tua tidak hanya mengajarkan anak untuk menjadi mandiri dan percaya diri, tetapi juga menciptakan ikatan emosional yang kuat. Pendekatan ini semakin dikenal karena mampu menghasilkan anak yang lebih empatik dan bertanggung jawab. Artikel ini akan memberikan tiga tips sukses untuk menerapkan gentle parenting dengan cara yang tenang dan positif.
Sebagai orang tua, penting untuk tetap tenang dan positif dalam menghadapi berbagai situasi dengan anak. Menurut penelitian “Catching Kids Being Good: A Practical Guide to Positive Behavioral Interventions and Supports,” orang tua perlu memuji anak empat kali lebih banyak daripada memberi umpan balik negatif. Hal ini bertujuan untuk mendorong perubahan perilaku yang positif. Dr. Karen Estrella, seorang dokter anak, menjelaskan bahwa meski dalam situasi yang penuh emosi atau stres, orang tua harus tetap mengedepankan ketenangan.
Ketika orang tua berteriak atau marah, anak akan lebih cenderung meniru perilaku tersebut. Oleh karena itu, ketika anak menunjukkan perilaku yang kurang baik, orang tua harus menghadapinya dengan tenang. Dengan demikian, anak belajar untuk bersikap sabar dan tidak mudah terbawa emosi.
Dengan memfokuskan diri pada hal-hal positif dan memuji usaha anak, hubungan yang penuh kasih sayang akan tercipta. Ingat, anak yang merasa dihargai cenderung lebih termotivasi untuk berperilaku baik.
“Baca juga: Mendidik Anak dengan Cinta: Pentingnya Kasih Sayang dalam Parenting”
Tidak ada orang tua yang selalu siap dengan segala kemungkinan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sangat penting untuk memiliki rencana mengenai bagaimana reaksi terhadap perilaku negatif anak. Saat anak mulai bertindak dengan cara yang tidak diinginkan, orang tua sebaiknya tidak langsung bereaksi, tetapi mengambil langkah mundur dan menenangkan diri terlebih dahulu.
Sebagai contoh, ketika berbelanja kebutuhan sehari-hari, anak sering kali merasa kecewa jika tidak mendapatkan mainan atau camilan yang diinginkannya. Dalam situasi seperti ini, orang tua dapat merencanakan cara terbaik untuk merespons. Apakah mereka akan memberikan penjelasan dengan lembut atau memilih untuk mengalihkan perhatian anak dengan cara lain?
Dengan memiliki rencana sebelumnya, orang tua akan lebih mudah mengendalikan emosi dan membuat keputusan yang lebih baik. Rencana ini akan menghindarkan orang tua dari respons reaktif yang bisa memperburuk situasi. Hal ini juga memberi contoh kepada anak tentang bagaimana menghadapi kekecewaan dengan tenang.
“Simak juga: Kisah Sukses Hermanto Tanoko: Mengubah Avian Menjadi Raksasa Industri”
Gentle parenting menekankan pentingnya hubungan yang saling mendukung antara orang tua dan anak. Salah satu cara untuk menerapkannya adalah dengan bekerja sama sebagai satu tim. Orang tua dapat mencoba mendiskusikan situasi yang terjadi dengan anak dan mencari solusi bersama. Misalnya, jika anak menunjukkan perilaku negatif, orang tua bisa mengajukan pertanyaan reflektif seperti, “Mengapa kamu merasa seperti itu?” atau “Apakah kamu tahu bagaimana perasaan saya?”
Pendekatan ini akan membuat anak merasa didengarkan dan lebih mengerti perspektif orang tua. Dengan cara ini, anak tidak hanya belajar mengelola emosi, tetapi juga menjadi lebih empati terhadap orang lain. Studi menunjukkan bahwa pengasuhan yang mengutamakan saling pengertian ini mengarah pada hubungan yang lebih kuat dan mengurangi kemungkinan gejala depresi di kemudian hari.
Selain itu, dengan mendiskusikan konsekuensi dan alasan di balik keputusan orang tua, anak belajar tentang tanggung jawab dan konsekuensi dari setiap tindakan mereka. Ini akan memperkuat rasa keterikatan anak pada orang tua, yang sangat penting untuk perkembangan emosional anak.